Penulis: Odjie Samroji
CEO Baraka Surya Digita & Founder Albirru Indonesia Foundation
22 Mei 2025 12:32 WIB
Bayangkan Indonesia hari ini tanpa pernah lahirnya Sumpah Pemuda. Negara ini mungkin tidak serta-merta terpecah karena masyarakat Indonesia memiliki daya tahan yang kuat. Namun, banyak energi akan habis hanya untuk menyelesaikan persoalan komunikasi yang seharusnya sederhana.
Rapat warga, kegiatan sekolah, pelayanan publik, perdagangan, hingga perdebatan politik dapat berjalan jauh lebih rumit. Masyarakat mungkin tetap hidup berdampingan, tetapi tanpa satu bahasa penghubung, setiap percakapan berisiko terhenti sebelum mencapai persoalan yang sebenarnya.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa bersejarah pada 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut menjadi fondasi yang menyatukan masyarakat dengan latar belakang bahasa, budaya, dan daerah yang berbeda. Bahasa Indonesia kemudian berkembang menjadi ruang bersama tempat seluruh warga dapat berkomunikasi tanpa kehilangan identitasnya.
Tanpa bahasa persatuan, kegiatan sederhana seperti rapat lingkungan dapat berubah menjadi proses yang panjang. Pembawa acara mungkin berbicara singkat, tetapi penerjemah membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelaskan maksudnya dalam beberapa bahasa daerah.
Notulen rapat pun harus diterbitkan dalam banyak versi. Setiap kalimat perlu diperiksa kembali agar tidak kehilangan makna atau menimbulkan salah tafsir.
Kondisi serupa dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Di jalan raya, pengemudi transportasi menggunakan istilah setempat, sedangkan penumpang dari daerah lain berusaha memahami petunjuk melalui aplikasi penerjemah.
Teknologi mungkin membantu, tetapi tidak selalu mampu menangkap konteks, kebiasaan, intonasi, dan nuansa budaya yang terdapat dalam suatu bahasa. Akibatnya, masyarakat dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk menerjemahkan maksud daripada menyelesaikan kebutuhan mereka.
Dunia pendidikan menjadi salah satu bidang yang paling terdampak apabila Sumpah Pemuda tidak pernah melahirkan kesepakatan mengenai bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia mungkin hanya menjadi salah satu pilihan pelajaran, bukan bahasa utama dalam proses pembelajaran. Sekolah di setiap wilayah dapat menggunakan bahasa masing-masing sebagai bahasa pengantar.
Keadaan tersebut memang memberi ruang luas bagi bahasa daerah, tetapi juga menimbulkan tantangan besar. Siswa yang pindah dari satu wilayah ke wilayah lain harus mempelajari bahasa baru sebelum dapat memahami materi pelajaran.
Ujian sekolah tidak hanya mengukur penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan memahami cara menyapa, berbicara, dan menulis dalam konteks budaya yang berbeda.
Proses belajar menulis pun menjadi lebih rumit. Siswa harus mempertimbangkan apakah pilihan kata yang digunakan dapat diterima oleh pembaca dari daerah lain. Pendidikan akhirnya lebih banyak disibukkan oleh persoalan bahasa daripada pengembangan gagasan dan pengetahuan.
Tanpa bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama, media massa harus bekerja lebih keras untuk menjangkau pembaca di berbagai daerah.
Satu berita mungkin diterbitkan dengan banyak judul dan gaya bahasa. Isinya tetap sama, tetapi susunan kalimat, istilah, dan iramanya harus disesuaikan dengan karakter pembaca di setiap wilayah.
Perdebatan di ruang komentar juga dapat bergeser dari isi berita menuju persoalan pilihan kata. Satu imbuhan atau akhiran tertentu bisa menimbulkan penafsiran berbeda bagi kelompok pembaca yang berlainan.
Alih-alih membahas substansi persoalan, masyarakat justru dapat terjebak dalam perdebatan mengenai penggunaan istilah dan makna sebuah kalimat.
Industri periklanan pun harus menguji setiap slogan secara khusus di berbagai daerah. Ungkapan yang dianggap menarik di satu wilayah belum tentu memiliki makna yang sama di wilayah lain.
Perbedaan yang terlihat kecil dapat menentukan apakah sebuah pesan diterima, disalahpahami, atau bahkan dianggap menyinggung masyarakat tertentu.
Kebutuhan untuk saling memahami akan melahirkan berbagai jenis usaha baru. Layanan penerjemahan waktu nyata, pelatihan komunikasi lintas dialek, dan jasa moderator rapat dapat menjadi bagian penting dalam dunia bisnis.
Perusahaan harus menyediakan tenaga khusus untuk memastikan bahwa pesan, kontrak, promosi, serta pelayanan pelanggan dapat dipahami oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Perdagangan digital juga menjadi lebih kompleks. Deskripsi produk, cara pembayaran, kebijakan pengembalian, serta syarat dan ketentuan harus ditulis dalam banyak versi.
Kalimat yang dianggap ringkas bagi masyarakat pesisir belum tentu mudah dipahami oleh masyarakat pegunungan atau wilayah lainnya. Perbedaan cara berbicara membuat perusahaan harus terus menyesuaikan bentuk komunikasi.
Dunia usaha mungkin tetap berkembang, tetapi biaya komunikasi menjadi jauh lebih besar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk berinovasi harus dialihkan untuk memastikan bahwa setiap pihak memahami pesan dengan cara yang sama.
Dalam dunia politik, ketiadaan bahasa persatuan dapat membuat komunikasi publik semakin sulit.
Janji kampanye perlu disusun dalam berbagai versi bahasa agar dapat menjangkau pemilih dari latar belakang yang berbeda. Setiap ungkapan harus dipilih secara hati-hati agar tidak menimbulkan salah tafsir atau menyinggung kelompok tertentu.
Debat publik dapat berlangsung dengan nada yang tertata, tetapi tidak selalu tegas. Para politisi mungkin lebih sibuk mengatur pilihan kata daripada menjelaskan program dan kebijakan secara terbuka.
Pesan politik yang telah diterjemahkan berulang kali juga berisiko mengalami perubahan makna. Satu janji dapat terdengar berbeda ketika disampaikan kepada masyarakat di wilayah lain.
Kondisi tersebut dapat memperbesar jarak antara pemerintah dan rakyat. Masyarakat sulit membandingkan gagasan karena tidak memiliki satu bahasa bersama yang dapat dijadikan ukuran.
Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam sistem hukum. Tanpa satu bahasa resmi yang dipahami bersama, proses hukum dapat menjadi jauh lebih rumit.
Perbedaan penggunaan kata kerja, tanda baca, dan susunan kalimat dapat mengubah makna suatu peraturan. Istilah yang dianggap jelas dalam satu bahasa belum tentu memiliki padanan yang tepat dalam bahasa lain.
Pengadilan membutuhkan penerjemah yang tidak hanya memahami kata, tetapi juga mampu menangkap konteks budaya dan nuansa sebuah pernyataan.
Kesalahan kecil dalam penerjemahan dapat memengaruhi kesaksian, kontrak, putusan, atau penafsiran terhadap suatu aturan. Upaya menegakkan keadilan akhirnya sangat bergantung pada ketepatan komunikasi.
Bahasa hukum seharusnya memberikan kepastian. Namun, tanpa bahasa bersama, kepastian tersebut berisiko terpecah ke dalam banyak versi penafsiran.
Upacara kenegaraan mungkin tetap berlangsung dengan megah. Lagu kebangsaan dapat dinyanyikan dalam beragam bahasa dan irama daerah.
Keragaman tersebut tentu menghadirkan keindahan tersendiri. Namun, tanpa satu koridor yang disepakati, masyarakat akan kesulitan menentukan irama, istilah, dan bentuk penyampaian yang menjadi rujukan nasional.
Indonesia tetap memiliki simbol negara, tetapi tidak mempunyai bahasa bersama yang memudahkan seluruh warga memaknai simbol tersebut dengan cara yang serupa.
Ketiadaan bahasa persatuan bukan hanya persoalan teknis. Hal itu juga memengaruhi cara masyarakat merasakan dirinya sebagai bagian dari satu bangsa.
Tanpa Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia mungkin tetap berkembang. Bahasa tersebut dapat digunakan oleh birokrat, akademisi, pelaku perdagangan, atau komunitas yang membutuhkan komunikasi lintas daerah.
Namun, bahasa Indonesia tidak akan memiliki kedudukan yang kuat sebagai rumah bersama. Ia hanya menjadi salah satu alat komunikasi di antara banyak pilihan yang tersedia.
Masyarakat mungkin menggunakan bahasa tersebut ketika diperlukan, tetapi tidak menjadikannya bagian dari identitas kebangsaan.
Akibatnya, setiap kelompok memiliki ruang komunikasi sendiri. Hubungan antardaerah tetap terjadi, tetapi memerlukan usaha lebih besar untuk mencapai pemahaman bersama.
Di stadion, masyarakat tetap dapat memberikan dukungan kepada tim nasional. Suasana pertandingan tetap ramai dengan yel-yel dari berbagai daerah.
Namun, ketika nyanyian memasuki bait berikutnya, pemimpin suporter mungkin harus menjelaskan perbedaan sapaan agar semangat tidak berubah menjadi kesalahpahaman.
Masyarakat tetap bergerak, berdagang, bercanda, berdebat, dan berdamai. Akan tetapi, banyak percakapan dapat tertahan hanya karena persoalan pemilihan kata.
Bangsa ini mungkin tetap berjalan, tetapi langkahnya menjadi lebih lambat karena harus berulang kali menyatukan arti sebelum menyatukan tindakan.
Perbedaan bahasa bukanlah sesuatu yang buruk. Bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang menyimpan sejarah, identitas, dan cara pandang masyarakat.
Masalah muncul ketika keberagaman tidak memiliki titik temu. Tanpa satu bahasa penghubung, bangsa Indonesia dapat menyerupai percakapan dalam keluarga besar di ruang digital: hangat, ramai, dan penuh warna, tetapi sulit menghasilkan keputusan bersama.
Setiap orang mungkin memahami persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Namun, tanpa satu pesan utama yang dapat dirujuk, pembicaraan mudah berputar pada detail dan kehilangan tujuan.
Sumpah Pemuda menyediakan titik temu tersebut. Ikrar itu tidak menghapus bahasa daerah, tetapi memberikan satu jembatan yang dapat digunakan semua orang.
Apabila tidak pernah diikrarkan, Sumpah Pemuda mungkin hanya menjadi gagasan yang berhenti sebagai draf. Ia seperti pembaruan penting yang tidak pernah dipasang ke dalam sistem kebangsaan.
Indonesia tetap dapat berfungsi, tetapi lebih mudah mengalami hambatan ketika menghadapi persoalan besar. Pada masa krisis, masyarakat membutuhkan bahasa yang mampu menyatukan perintah, harapan, dan tujuan.
Bangsa ini tidak cukup hanya memiliki banyak pilihan bahasa. Indonesia membutuhkan cara untuk memastikan bahwa seluruh warga memahami arah yang sama.
Sumpah Pemuda menghadirkan mekanisme tersebut melalui pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu anugerah terbesar dalam perjalanan bangsa. Bahasa ini menghubungkan masyarakat yang berbeda suku, budaya, agama, serta latar belakang daerah.
Melalui bahasa Indonesia, masyarakat dapat berdebat tanpa harus berpisah, bercanda tanpa kehilangan arah, dan menyampaikan cita-cita tanpa terhalang batas dialek.
Bahasa persatuan tidak meminta masyarakat meninggalkan bahasa daerahnya. Setiap orang tetap dapat berbicara dengan aksen dan identitas masing-masing.
Yang disatukan bukan cara mengucapkan kata, melainkan arah langkah sebagai bangsa Indonesia.
Semangat Sumpah Pemuda tidak bertujuan menghilangkan perbedaan. Persatuan bukanlah upaya menjadikan seluruh masyarakat memiliki bahasa, budaya, dan kebiasaan yang sama.
Persatuan berarti menyepakati satu jembatan agar berbagai sisi dapat saling bertemu. Bahasa Indonesia menjadi jembatan yang memungkinkan masyarakat membawa identitas daerahnya ke dalam ruang kebangsaan.
Di dalam ruang tersebut, keberagaman tidak saling meniadakan. Perbedaan justru memperkaya cara bangsa Indonesia memandang dunia.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masyarakat dapat memiliki banyak suara, tetapi tetap menyanyikan satu nada kebangsaan.
Pada era digital, semangat Sumpah Pemuda tetap relevan. Perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah berkomunikasi, tetapi juga semakin rentan mengalami kesalahpahaman.
Bahasa Indonesia perlu digunakan secara bijaksana, jelas, dan bertanggung jawab. Masyarakat harus menjaga agar bahasa persatuan tidak berubah menjadi alat untuk merendahkan, memecah belah, atau menyebarkan kebencian.
Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk merawat bahasa Indonesia sekaligus melestarikan bahasa daerah. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Bahasa daerah menjaga akar kebudayaan, sedangkan bahasa Indonesia mempertemukan seluruh akar tersebut dalam satu kehidupan kebangsaan.
Sumpah Pemuda menjadikan Indonesia lebih dari sekadar kumpulan pulau di atas peta. Ia menghadirkan janji bahwa masyarakat dengan latar belakang berbeda bersedia berjalan menuju masa depan yang sama.
Bahasa Indonesia menjadi simpul yang membuat keberagaman saling menguatkan. Melaluinya, seluruh warga dapat menyampaikan pikiran, menyelesaikan perbedatan, membangun kerja sama, dan merancang masa depan bersama.
Kita tetap memiliki logat, dialek, dan cara berbicara yang beragam. Namun, di balik seluruh perbedaan tersebut, terdapat satu nada yang menghubungkan kita.
Nada itulah yang membuat Indonesia terus hidup sebagai bangsa: beragam dalam suara, tetapi satu dalam tujuan. (dva)