Oleh: Syaiful Rahman
Mahasiswa Pascasarjana,
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya
26 September 2021
Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Jenis, kandungan, dan kualitas makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Oleh sebab itu, kualitas makanan perlu dipastikan sejak tahap pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga makanan tersebut disajikan kepada konsumen.
Tanggung jawab menjaga mutu makanan tidak hanya berlaku bagi rumah tangga yang mengolah makanan untuk kebutuhan sendiri. Pelaku usaha jasa boga, seperti restoran, katering, kantin, hotel, rumah sakit, dan penyedia makanan lainnya, juga wajib menerapkan sistem pengendalian bahan yang baik.
Sistem jasa makanan pada dasarnya bertujuan menghasilkan produk berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tujuan tersebut hanya dapat dicapai apabila bahan, tenaga kerja, peralatan, serta proses pengelolaannya berjalan secara terencana dan terkendali.
Tahap pertama yang menentukan kualitas makanan dalam sistem jasa boga adalah pengadaan bahan. Pada tahap ini, pelaku usaha harus mampu memilih dan memperoleh bahan makanan yang bermutu dengan harga yang sesuai.
Pemilihan bahan tidak dapat hanya didasarkan pada harga murah. Kesegaran, keamanan, ukuran, kandungan, kebersihan, masa simpan, dan kesesuaian bahan dengan kebutuhan menu juga perlu menjadi pertimbangan.
Bahan makanan yang berkualitas akan mempermudah proses produksi dan membantu menghasilkan makanan yang aman serta sesuai dengan harapan pelanggan. Sebaliknya, bahan yang sejak awal memiliki mutu rendah dapat menimbulkan berbagai masalah, meskipun proses pengolahannya telah dilakukan dengan baik.
Pengadaan bahan dalam usaha jasa boga melibatkan beberapa bagian yang saling berkaitan. Bagian tersebut dapat mencakup unit pembelian, pemasok, pengelola persediaan, manajemen gudang, manajemen personalia, dan manajemen umum.
Setiap bagian memiliki tanggung jawab yang berbeda. Tugas-tugas tersebut antara lain menyusun perkiraan kebutuhan bahan, memilih produk, membuat spesifikasi bahan dan peralatan, menentukan metode pembelian, menyeleksi pemasok, melengkapi dokumen pengadaan, serta menyusun laporan.
Kesalahan pada salah satu bagian dapat memengaruhi proses berikutnya. Oleh karena itu, komunikasi, koordinasi, dan kerja sama antarpihak menjadi unsur penting dalam menghasilkan makanan yang berkualitas.
Perencanaan kebutuhan bahan juga harus dilakukan secara akurat. Jumlah bahan yang terlalu sedikit dapat menghambat produksi, sedangkan pembelian berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan dan pemborosan.
Pemasok memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan usaha jasa makanan. Pemasok yang baik tidak hanya mampu menawarkan harga yang kompetitif, tetapi juga menjamin mutu, kuantitas, ketepatan waktu, serta konsistensi bahan yang dikirim.
Pelaku usaha perlu melakukan seleksi pemasok berdasarkan kriteria yang jelas. Riwayat pengiriman, kebersihan proses distribusi, kesesuaian produk, kecepatan pelayanan, dan kemampuan menangani keluhan dapat menjadi bahan evaluasi.
Hubungan dengan pemasok juga harus dibangun secara profesional. Kesepakatan mengenai standar bahan, jadwal pengiriman, harga, dan prosedur pengembalian perlu dituangkan secara jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Setelah pengadaan dilakukan, tahap berikutnya adalah penerimaan bahan. Proses ini tidak hanya berupa menerima dan menandatangani barang yang dikirim oleh pemasok.
Petugas penerimaan harus memastikan bahwa kualitas, kuantitas, berat, ukuran, dan jenis bahan sesuai dengan spesifikasi pemesanan. Harga yang tercantum pada faktur juga harus diperiksa agar sesuai dengan kesepakatan.
Bahan yang mudah rusak perlu diberi tanda dan dicatat berdasarkan tanggal penerimaan. Setelah itu, seluruh barang yang diterima harus dimasukkan secara akurat ke dalam laporan penerimaan harian.
Bahan kemudian segera dipindahkan ke tempat penyimpanan atau area produksi yang sesuai. Langkah tersebut penting untuk mencegah kehilangan, kontaminasi, penurunan mutu, maupun kerusakan akibat keterlambatan penanganan.
Proses penerimaan menjadi sangat penting karena sekitar 30 hingga 50 persen pendapatan usaha jasa makanan dapat digunakan untuk membeli bahan makanan. Besarnya biaya tersebut menunjukkan bahwa kesalahan penerimaan dapat memberikan kerugian yang cukup besar.
Penerimaan barang seharusnya tidak dipercayakan kepada pekerja yang kebetulan berada di dekat lokasi bongkar muat atau gudang ketika pengiriman tiba. Tanggung jawab penerimaan harus diberikan kepada petugas tertentu yang memiliki kemampuan dan wewenang yang jelas.
Penerimaan yang dilakukan tanpa prosedur sistematis dapat menimbulkan berbagai persoalan. Bahan yang dikirim mungkin tidak sesuai jumlah, kualitasnya lebih rendah, atau memiliki kondisi yang berbeda dari spesifikasi pemesanan.
Selain itu, tanggung jawab yang tidak tetap juga dapat membuka peluang terjadinya kehilangan, pencurian, kesalahan pencatatan, dan kecerobohan dalam penanganan bahan.
Kelalaian saat menerima bahan dapat memengaruhi keberlangsungan usaha jasa boga dalam jangka panjang. Bahan yang sebelumnya telah dipilih sesuai standar dapat mengalami kerusakan apabila tidak segera diperiksa dan ditangani dengan benar.
Sebagai contoh, bahan beku yang terlalu lama berada di area bongkar muat dapat mengalami perubahan suhu. Sayuran segar dapat layu, bahan kering dapat terkena kelembapan, sedangkan produk mudah rusak dapat mengalami penurunan kualitas.
Masalah tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dapat memengaruhi keamanan makanan yang disajikan kepada konsumen. Apabila bahan rusak tetap digunakan, risiko terhadap kesehatan pelanggan akan meningkat.
Karyawan yang bertanggung jawab menerima bahan perlu memiliki keterampilan khusus. Pertama, petugas harus mengetahui standar dan spesifikasi kualitas setiap produk yang dipesan.
Kedua, petugas harus mampu mengevaluasi kondisi bahan secara langsung. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap kesegaran, warna, aroma, tekstur, suhu, kebersihan kemasan, dan masa kedaluwarsa.
Ketiga, petugas perlu memahami setiap tahapan dalam prosedur penerimaan, mulai dari pemeriksaan dokumen hingga pemindahan bahan ke tempat penyimpanan.
Keempat, petugas harus mengetahui tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi masalah pada barang yang dikirim. Bahan yang tidak sesuai harus dipisahkan, dicatat, dan dilaporkan untuk dikembalikan atau diganti oleh pemasok.
Kelima, petugas wajib memahami cara mengisi formulir penerimaan serta memelihara catatan secara lengkap. Dokumentasi tersebut diperlukan untuk pengawasan persediaan, evaluasi pemasok, dan pemeriksaan keuangan.
Tidak semua bahan yang diterima langsung digunakan dalam proses produksi. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem penyimpanan yang mampu mempertahankan kualitas bahan hingga waktu pemakaian.
Bahan yang telah diterima dalam kondisi baik harus ditempatkan sesuai dengan karakteristiknya. Bahan kering, bahan dingin, bahan beku, sayuran, buah, daging, dan produk lainnya memerlukan kondisi penyimpanan yang berbeda.
Kesalahan penempatan dapat mempercepat kerusakan dan meningkatkan risiko kontaminasi silang. Karena itu, setiap bahan harus disimpan pada tempat dan suhu yang sesuai.
Pengelolaan gudang juga perlu menerapkan pencatatan keluar-masuk barang. Sistem rotasi persediaan dapat digunakan agar bahan yang lebih dahulu diterima juga digunakan lebih dahulu.
Penyimpanan bahan sebaiknya ditangani oleh staf yang memiliki tanggung jawab khusus. Petugas gudang harus memahami karakteristik bahan, persyaratan suhu, tata letak, kebersihan, pencatatan, dan keamanan ruang penyimpanan.
Staf juga harus melakukan pemeriksaan secara rutin. Bahan yang menunjukkan tanda kerusakan, perubahan warna, munculnya jamur, kebocoran kemasan, atau masa simpan yang hampir berakhir perlu segera ditangani.
Tanpa petugas yang kompeten, bahan berkualitas baik dapat kehilangan mutunya selama berada di gudang. Akibatnya, biaya pengadaan yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia.
Keamanan merupakan bagian penting dalam pengelolaan fasilitas penyimpanan. Pencegahan pencurian harus menjadi perhatian karena gudang menyimpan bahan yang memiliki nilai ekonomis bagi perusahaan.
Akses ke ruang penyimpanan perlu dibatasi kepada petugas yang berwenang. Penggunaan kunci, pencatatan akses, dan pemeriksaan persediaan secara rutin dapat membantu mengurangi risiko kehilangan.
Penggantian kunci secara berkala juga diperlukan untuk mencegah penggunaan kunci duplikat yang tidak sah. Prosedur keamanan tersebut harus diterapkan secara konsisten, bukan hanya ketika terjadi masalah.
Selain mencegah pencurian, pengelola juga harus memastikan bahwa bahan tidak diambil atau digunakan tanpa pencatatan. Ketidakteraturan tersebut dapat menyebabkan perbedaan antara jumlah persediaan fisik dan laporan administrasi.
Penyimpanan yang tepat merupakan bagian dari program jaminan kualitas makanan. Beberapa aspek utama yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu, kebersihan, sanitasi, keamanan, dan kestabilan kondisi ruang penyimpanan.
Suhu penyimpanan harus disesuaikan dengan jenis bahan. Perubahan suhu yang tidak terkendali dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme dan menyebabkan bahan kehilangan kesegarannya.
Ruang penyimpanan juga harus dibersihkan secara berkala. Lantai, rak, dinding, pintu, lemari pendingin, serta peralatan penyimpanan perlu dijaga agar terbebas dari debu, cairan, hama, dan sumber kontaminasi lainnya.
Sanitasi yang buruk dapat menyebabkan bahan berkualitas baik menjadi tidak aman untuk digunakan. Oleh sebab itu, kebersihan gudang tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan tambahan, melainkan bagian utama dari pengendalian mutu.
Proses pengendalian bahan dalam usaha jasa makanan ternyata tidak sederhana. Pengadaan, pemilihan pemasok, penerimaan, pemeriksaan, pencatatan, penyimpanan, dan distribusi bahan menuju area produksi harus dilakukan secara terintegrasi.
Setiap tahap memiliki risiko yang dapat memengaruhi mutu makanan. Kesalahan kecil dalam pencatatan, pemeriksaan, atau pengaturan suhu dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Sayangnya, belum semua pelaku usaha memiliki panduan dan pemahaman yang memadai mengenai proses tersebut. Sebagian usaha jasa boga masih mengandalkan kebiasaan tanpa prosedur tertulis dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Padahal, kesalahan dalam pengendalian bahan tidak hanya merugikan perusahaan. Konsumen sebagai pengguna jasa juga dapat terkena dampaknya, terutama apabila makanan yang dihasilkan tidak memenuhi standar mutu dan keamanan.
Buku Pengendalian Bahan dalam Sistem Usaha Jasa Boga karya Any Sutiadiningasih memberikan pembahasan penting mengenai pengelolaan bahan dalam industri jasa makanan.
Buku ini dapat menjadi referensi bagi pemilik usaha jasa boga, pengelola restoran, pelaku katering, tenaga pengadaan, petugas gudang, mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami pentingnya pengendalian bahan makanan.
Pembahasannya relevan dengan kebutuhan pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Sistem pengendalian yang baik dapat membantu mengurangi pemborosan, menjaga persediaan, mencegah kerusakan, dan mempertahankan kepuasan pelanggan.
Pengendalian bahan makanan tidak hanya berhubungan dengan keuntungan usaha. Proses tersebut juga berkaitan erat dengan upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Makanan yang aman dan berkualitas bermula dari bahan yang tepat. Apabila pengadaan, penerimaan, dan penyimpanan dilakukan secara benar, risiko penggunaan bahan rusak atau tidak layak dapat dikurangi.
Sebaliknya, lemahnya pengawasan dapat menyebabkan bahan yang tidak memenuhi standar masuk ke dalam proses produksi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas makanan dan membahayakan konsumen.
Karena asupan makanan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kesehatan, buku ini memiliki manfaat yang luas. Isinya tidak hanya membantu pelaku usaha memperbaiki pengelolaan bahan, tetapi juga mendukung penyediaan makanan yang aman bagi masyarakat.
Buku karya Any Sutiadiningasih ini layak dibaca oleh siapa saja yang terlibat dalam sistem usaha jasa makanan. Pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mengevaluasi prosedur yang selama ini dijalankan.
Akademisi dan mahasiswa dapat menjadikannya sebagai bahan pembelajaran mengenai manajemen jasa boga, pengadaan, penerimaan, dan penyimpanan bahan. Sementara itu, masyarakat umum dapat memperoleh pemahaman bahwa kualitas makanan tidak hanya ditentukan pada saat dimasak.
Mutu makanan terbentuk melalui rangkaian proses panjang, mulai dari memilih bahan, bekerja sama dengan pemasok, memeriksa barang yang datang, hingga menyimpannya dalam kondisi yang tepat.
Melalui penerapan pengendalian bahan yang konsisten, usaha jasa boga dapat menghasilkan makanan yang berkualitas, menjaga kepercayaan pelanggan, menekan kerugian, dan ikut melindungi kesehatan masyarakat. (dva)
Judul: Pengendalian Bahan dalam Sistem Usaha Jasa Boga
Penulis: Any Sutiadiningasih
Penerbit: CV Prima Abadi Jaya
Tahun terbit: Cetakan pertama, Agustus 2021
ISBN: 978-623-95407-7-7