Penulis: Odjie Samroji
CEO Baraka Surya Digita & Founder Albirru Indonesia Foundation
22 Mei 2025 12:32 WIB
Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, guru merupakan figur yang dipercaya, dihormati, dan dijadikan teladan oleh peserta didik. Di tengah perubahan zaman serta tantangan pendidikan yang semakin kompleks, semangat untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru perlu terus dipelihara.
Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai persoalan, seperti menurunnya semangat mengajar, kurangnya kedisiplinan, hingga penggunaan media sosial yang tidak tepat selama kegiatan pembelajaran. Kondisi tersebut tentu perlu menjadi perhatian bersama karena perilaku guru di sekolah dapat memengaruhi sikap, kebiasaan, dan motivasi belajar siswa.
Ketika memasuki ruang kelas, guru tidak hanya membawa buku, bahan ajar, dan pengetahuan. Guru juga membawa sikap, kebiasaan, serta nilai-nilai yang secara langsung maupun tidak langsung akan diamati oleh siswa.
Guru yang mengajar dengan penuh semangat, disiplin, dan antusias dapat membangun suasana belajar yang positif. Energi tersebut biasanya ikut mendorong siswa untuk lebih aktif, percaya diri, dan termotivasi mengikuti pembelajaran.
Sebaliknya, apabila guru sering datang terlambat, tidak fokus, atau sibuk menggunakan telepon genggam ketika mengajar, siswa dapat menangkap pesan yang keliru. Mereka mungkin menganggap bahwa kegiatan belajar bukan sesuatu yang perlu dilakukan dengan serius. Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat menurunkan kedisiplinan dan minat belajar peserta didik.
Menurunnya semangat dan kedisiplinan guru dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan. Beban kerja yang tinggi, tuntutan administratif, keterbatasan fasilitas, serta kurangnya dukungan dari lingkungan kerja menjadi beberapa faktor yang sering dirasakan oleh tenaga pendidik.
Banyaknya tugas administrasi terkadang menyita waktu dan energi yang seharusnya dapat digunakan untuk merancang pembelajaran yang lebih kreatif. Meski demikian, berbagai tantangan tersebut tidak seharusnya membuat guru mengabaikan tanggung jawab utamanya dalam mendidik, membimbing, dan membentuk karakter siswa.
Guru perlu menyadari bahwa profesinya memiliki pengaruh besar terhadap masa depan generasi berikutnya. Setiap ucapan, tindakan, serta keputusan yang diperlihatkan di depan siswa dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Platform digital tersebut dapat memberikan banyak manfaat, tetapi juga berpotensi mengganggu proses pembelajaran apabila digunakan tanpa kendali.
Guru sebaiknya menghindari kebiasaan membuka media sosial untuk kepentingan pribadi ketika sedang mengajar. Selain mengurangi konsentrasi, kebiasaan tersebut dapat menurunkan kualitas interaksi antara guru dan siswa.
Sebaliknya, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menarik. Guru dapat membuat ruang diskusi daring, membagikan materi edukatif, memberikan informasi tambahan, atau mengajak siswa menganalisis konten digital secara kritis.
Pemanfaatan teknologi secara tepat akan membantu menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, relevan, dan sesuai dengan karakter peserta didik pada era digital.
Menjadi guru yang profesional membutuhkan pola pikir positif, kemauan untuk berkembang, dan komitmen terhadap tanggung jawab pendidikan. Semangat mengajar tidak hanya berasal dari lingkungan, tetapi juga perlu dibangun dari dalam diri guru.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, seminar, lokakarya, komunitas belajar, maupun kegiatan pengembangan profesi lainnya. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat memperoleh wawasan baru dan menemukan metode pembelajaran yang lebih efektif.
Pengetahuan dan keterampilan yang terus diperbarui juga dapat membantu guru menghindari pembelajaran yang monoton. Guru akan lebih mampu menghadirkan kegiatan belajar yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Upaya membangun guru yang berkualitas tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu guru. Sekolah perlu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, kolaboratif, dan mendukung pengembangan profesional tenaga pendidik.
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan fasilitas pembelajaran, kesempatan mengikuti pelatihan, pendampingan profesional, serta waktu khusus untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan sesama guru.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung proses pendidikan. Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan siswa secara lebih tepat. Orang tua juga perlu menanamkan sikap menghormati guru dan menghargai pentingnya pendidikan kepada anak-anak mereka.
Kolaborasi antara guru, sekolah, dan keluarga akan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kuat dan kondusif.
Menjadi sosok yang dipercaya dan diteladani memang bukan tugas yang ringan. Guru perlu menjaga konsistensi antara apa yang disampaikan dengan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika guru memperlihatkan kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, serta semangat belajar, siswa akan lebih mudah menyerap nilai-nilai positif tersebut. Keteladanan yang nyata sering kali memberikan pengaruh lebih kuat dibandingkan nasihat yang hanya disampaikan melalui kata-kata.
Karena itu, guru perlu terus memperbaiki diri dan menjaga kehormatan profesinya. Guru yang berdedikasi tidak hanya membantu siswa mencapai keberhasilan akademis, tetapi juga berperan dalam membentuk manusia yang berkarakter.
Pendidikan yang berkualitas lahir dari kerja sama seluruh pihak. Guru berperan sebagai penggerak utama pembelajaran, sedangkan sekolah dan keluarga menjadi lingkungan yang memperkuat proses pembentukan karakter siswa.
Dengan semangat, kedisiplinan, serta penggunaan teknologi yang bijaksana, guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Keteladanan guru akan membantu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki etika, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Mari bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang memungkinkan guru dan siswa tumbuh, belajar, serta saling mendukung. Dari ruang kelas yang penuh keteladanan, masa depan generasi bangsa dapat dibangun dengan lebih baik. (dva)