Penulis: Odjie Samroji /Akademisi dan Praktisi Manajemen SDM
Oleh : Orbit Daya Sinergi pada Rabu, 17 Jun 2026 | 9:44 am
Tahun Baru Hijriah selalu menghadirkan momentum reflektif untuk menggali kembali esensi perjuangan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tidak boleh direduksi sekadar sebagai perpindahan geografis. Lebih dari itu, hijrah adalah sebuah pergerakan spiritual, rekayasa sosial, dan tonggak kepemimpinan paripurna yang mensyaratkan keberanian moral, keteguhan prinsip, kematangan strategi, serta visi untuk membangun peradaban baru.
Pesan universal dari peristiwa ini sangat jelas, yaitu perubahan hakiki tidak akan pernah lahir dari sekadar rima slogan yang indah. Perubahan menuntut kejernihan visi, kerelaan berkorban, dan kemampuan melembagakan ajaran luhur ke dalam sistem kemasyarakatan. Oleh karena itu, spirit hijrah sangat relevan dijadikan inspirasi dan kritik bagi model kepemimpinan nasional hari ini, terutama ketika Indonesia sedang membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya sibuk mengelola rutinitas administratif, tetapi berani menghadirkan perubahan yang nyata dan berakar.
Dari Retorika Menuju Kerja Nyata
Dalam lanskap kepemimpinan nasional, hijrah memberikan peringatan keras bahwa agenda besar negara tidak boleh berhenti di atas kertas. Berbagai visi strategis pemerintah, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025 hingga 2029, menetapkan target ambisius. Target tersebut meliputi pengentasan kemiskinan ekstrem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan kesejahteraan, pemberantasan korupsi, serta pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Di sinilah aktualisasi hijrah diuji. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang menduduki puncak kekuasaan formal, melainkan kemampuan moral untuk memindahkan suatu bangsa dari titik nadir ke titik puncak. Yakni menggeser masyarakat dari kerapuhan menuju ketangguhan, dari ketergantungan menuju kemandirian, dan dari tata kelola yang korup menuju sistem yang transparan serta akuntabel.
Madinah: Cetak Biru Kepemimpinan Transformatif
Keputusan Nabi Muhammad SAW untuk berhijrah bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan manuver strategis untuk membuka lembaran baru bagi masa depan umat. Jika Makkah adalah rahim tempat lahirnya wahyu, maka Madinah adalah laboratorium tempat pedoman Islam dilembagakan secara terstruktur.
Di Madinah, keimanan tidak dibiarkan menjadi ritual eksklusif di ruang privat, melainkan ditransformasikan menjadi pilar keadilan sosial dan ekonomi. Keimanan juga mewujud dalam persaudaraan yang melampaui batas kesukuan, sistem musyawarah yang inklusif, serta perlindungan hukum bagi kelompok minoritas yang memiliki keyakinan berbeda.
Pemimpin transformatif adalah mereka yang bekerja dengan cara demikian. Ia tidak hanya bertindak sebagai administrator negara, tetapi sebagai penggerak kesadaran kolektif. Ia tidak sekadar memberi instruksi, tetapi membangun sistem, memupuk kepercayaan publik, dan memastikan setiap kebijakan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Pentingnya Strategi, Data, dan Meritokrasi
Hijrah mengajarkan bahwa niat baik dan semangat saja tidak cukup untuk mengurus negara. Perjalanan ke Madinah dirancang dengan perhitungan matematis dan manajerial yang luar biasa cermat. Terdapat keselarasan yang jelas antara elemen hijrah dan implementasi tata kelola negara modern.
Pertama, terkait keterlibatan tokoh inti. Pada masa hijrah, Abu Bakar hadir sebagai pendamping, Ali bertugas mengecoh musuh, dan Asma menyiapkan logistik. Pada era modern, hal ini sejalan dengan sinergi kelembagaan, yaitu pembagian tugas yang jelas antar kementerian dan lembaga tanpa ego sektoral.
Kedua, penggunaan penunjuk jalan eksternal. Nabi memilih Abdullah bin Uraiqith karena keahliannya, bukan karena kesamaan agama atau kedekatan personal. Hal ini mencerminkan prinsip meritokrasi, yaitu penunjukan pejabat dan birokrat berdasarkan kompetensi serta rekam jejak, bukan kedekatan kekerabatan.
Ketiga, perencanaan waktu dan rute yang presisi dalam peristiwa hijrah merupakan bentuk awal dari kebijakan berbasis data. Hal ini menunjukkan bahwa perumusan program strategis harus dieksekusi dengan ketepatan waktu serta perhitungan anggaran yang matang.
Agenda strategis negara saat ini, seperti swasembada pangan, energi, dan air, mustahil tercapai tanpa tata kelola yang terbebas dari korupsi. Tanpa birokrasi yang jujur, program sebesar apa pun hanya akan berakhir sebagai dokumen pengadaan yang menguntungkan segelintir pihak.
Keberanian Moral dan Reformasi Birokrasi
Berhijrah berarti berani keluar dari zona nyaman, siap menghadapi ketidakpastian, dan rela berkorban. Kepemimpinan nasional hari ini sangat merindukan keberanian moral semacam ini.
Akar masalah bangsa kita, seperti birokrasi yang lamban, korupsi yang sistemik, dan pelayanan publik yang buruk, tidak disebabkan oleh kurangnya regulasi hukum, melainkan oleh ketiadaan nyali untuk menindak tegas pelanggarnya. Pelayanan publik yang cepat dan aparat yang berintegritas hanya bisa terwujud jika negara secara konsisten menerapkan rekrutmen yang bersih, pengawasan berlapis, penegakan hukum yang adil bagi semua warga, dan budaya birokrasi yang sepenuhnya melayani rakyat.
Kolaborasi Inklusif dan Prinsip Amanah
Revolusi di Madinah tidak dibangun oleh seorang pahlawan tunggal, melainkan melalui kerja kolektif yang brilian antara kaum Muhajirin yang membawa keteguhan iman serta pengalaman, dan kaum Anshar yang menjadi simbol solidaritas serta kerelawanan.
Bagi pemerintah, ini adalah pengingat keras agar tidak bersikap elitis dan tertutup. Negara wajib merangkul partisipasi publik, terbuka terhadap kritik akademis, dan memberi ruang bagi kontrol masyarakat sipil. Pemimpin yang matang menyadari bahwa kritik adalah elemen penting yang menyehatkan sistem pemerintahan.
Lebih jauh, setiap kebijakan harus bermuara pada satu pedoman tata kelola tertinggi, yaitu amanah. Pembangunan yang mengabaikan etika moral hanya akan memperlebar jurang ketimpangan antara pihak kaya dan miskin. Kebijakan publik harus selalu diuji dengan pertanyaan esensial: Apakah program ini mengangkat harkat martabat rakyat kecil, atau sekadar mempercantik grafis laporan pemerintah?
Berpindah Menuju Kemaslahatan
Peringatan Tahun Baru Hijriah tidak selayaknya dibiarkan menguap sebagai rutinitas seremoni belaka. Hijrah adalah panggilan untuk bergeser dari politik pencitraan menuju politik pengabdian yang tulus. Hijrah juga menuntut peralihan dari obsesi meraup kekuasaan menuju orientasi kemaslahatan umat, serta dari pertumbuhan ekonomi yang timpang menuju pemerataan yang berkeadilan.
Pemimpin yang dijiwai oleh spirit hijrah adalah sosok yang tegas namun penuh empati. Ia memiliki pandangan jauh ke depan namun tetap peka terhadap penderitaan rakyat. Ia pandai merancang strategi namun pantang menggadaikan kejujuran. Jika energi moral hijrah ini sungguh dihidupkan ke dalam nadi kepemimpinan nasional, Indonesia niscaya akan bertransformasi menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berdiri tegak dengan penuh martabat. (dva)