Penulis: Odjie Samroji
CEO Baraka Surya Digita & Founder Albirru Indonesia Foundation
14 Mei 2025 11:04 WIB
Pesantren sejatinya adalah episentrum peradaban dan oase spiritual. Di tempat suci inilah ribuan santri ditempa untuk tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Mereka dididik untuk mencintai ilmu, memuliakan guru, dan membangun fondasi akhlak yang kokoh. Namun, sebuah ironi besar terjadi ketika tempat yang seharusnya menjadi rahim bagi kedamaian justru diselimuti oleh kabut tekanan dan ketakutan, yang bersumber dari gaya kepemimpinan sang kyai itu sendiri.
Kita harus berani membuka mata terhadap realitas yang ada. Tidak dapat dimungkiri, masih banyak pesantren yang dikelola dengan gaya kepemimpinan yang kaku dan otoriter. Dalam ekosistem seperti ini, kyai bertransformasi menjadi pusat kendali mutlak yang keputusannya tidak boleh dipertanyakan, apalagi dikritik. Budaya yang terbangun adalah budaya menyalahkan (blame culture); jika santri melanggar aturan, kelalaian ustadz yang menjadi sasaran tembak. Ruang dialog digantikan oleh amarah yang meledak-ledak, dan nada suara yang tinggi lebih mendominasi ketimbang kebijaksanaan untuk duduk bersama mencari akar masalah.
Salah satu persoalan mendasar di banyak pesantren adalah struktur manajerial yang terlampau sentralistik. Segala kebijakan dari hal yang paling strategis hingga urusan operasional terkecil harus bermuara pada satu titah: sang kyai.
Hilangnya Ruang Partisipasi: Para ustadz, pengurus senior, hingga santri hampir tidak pernah dilibatkan dalam perumusan kebijakan. Akibatnya, pesantren kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang dinamis dan lebih menyerupai sistem kerajaan feodal berskala kecil.
Esensi Kepemimpinan: Seorang kyai bukanlah raja yang memiliki hak prerogatif absolut. Ia adalah khadimul ummah (pelayan umat), pendidik, dan kompas moral. Pemimpin sejati di lingkungan pesantren justru harus memiliki keluasan hati untuk mendengar dan menerima masukan dari berbagai lapis usia dan jabatan.
Kepercayaan vs. Ketakutan: Otoritas yang sehat tidak diukur dari seberapa bisu bawahan mematuhi perintah, melainkan dari seberapa besar kepercayaan dan rasa hormat yang tumbuh dari sikap adil sang pemimpin. Ketika semua kritik dianggap sebagai rongrongan terhadap kekuasaan, pesantren perlahan kehilangan ruh demokrasinya. Padahal, syariat Islam sangat menjunjung tinggi nilai musyawarah.
Apa dampak destruktif dari seorang pemimpin yang reaktif dan mudah tersulut emosi? Pesantren yang seharusnya menjadi ruang aman (safe space) untuk belajar berubah menjadi arena yang mencekam.
Efek Domino Ketakutan: Santri menjadi pasif dan takut bertanya, para ustadz ragu mengambil inisiatif karena takut disalahkan, dan roda organisasi berjalan di atas kepura-puraan.
Kematian Karakter: Dalam suasana penuh intimidasi, yang tumbuh subur bukanlah semangat mencari ilmu atau keikhlasan, melainkan kepatuhan semu yang didasari rasa takut.
Dalam kultur feodal, ada dogma keliru yang menyamakan kritik dengan ketidaksopanan (su'ul adab), pembangkangan, atau kedurhakaan kepada guru. Paradigma ini harus diluruskan.
Kritik yang disampaikan dengan adab dan kesantunan adalah manifestasi dari rasa kepedulian yang mendalam. Para santri dan asatidz bersuara justru karena mereka mencintai pesantrennya dan berharap lembaga tersebut terus bertransformasi menjadi lebih baik. Kita harus mampu memisahkan antara celaan yang bertujuan menjatuhkan, dengan kritik konstruktif yang bertujuan membangun.
Seorang kyai yang merasa dirinya suci dari kesalahan dan kebal terhadap evaluasi sejatinya sedang mengadopsi mentalitas seorang tiran, bukan akhlak seorang ulama pencerah.
Sudah saatnya sistem kepemimpinan di pesantren berevolusi menjadi lebih bijaksana dan manusiawi. Mari kita kembalikan pandangan kita kepada sebaik-baiknya teladan, yakni Rasulullah SAW.
Meskipun beliau adalah manusia pilihan yang maksum (terpelihara dari dosa), Rasulullah tidak pernah memosisikan dirinya sebagai penguasa yang anti-kritik. Beliau selalu melibatkan para sahabat dalam musyawarah strategis, mendengarkan keluh kesah mereka dengan sabar, dan tidak pernah meledak dalam amarah ketika sahabat melakukan kekeliruan. Beliau menegur dengan kelembutan, memberikan ruang bimbingan, dan memanusiakan setiap individu di sekitarnya. (dva)