Penulis: Odjie Samroji
CEO Baraka Surya Digita & Founder Albirru Indonesia Foundation
27 Oktober 2023 19:39 WIB
Hari-hari ini, mata dunia tertuju pada kengerian perang di Palestina. Rentetan video, gambar, dan berita tentang pembantaian anak-anak tak berdosa, wanita, dan lansia sangat mengiris hati dan nurani. Jika kita melihat secara saksama, kawasan Gaza kini seolah direduksi menjadi "hutan belantara" yang didominasi oleh hukum rimba: siapa yang kuat, dialah yang berkuasa; dan siapa yang lemah, akan binasa.
Tragedi ini memunculkan sebuah pertanyaan eksistensial yang sangat mendasar: ke manakah perginya nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi fitrah kita? Mengapa di era modern ini, masih ada kelompok manusia yang membiarkan jatuhnya korban jiwa dengan hilangnya empati dan adab?
Penderitaan rakyat Palestina bukanlah kisah baru; ini adalah luka berdarah yang telah menganga selama puluhan tahun. Konflik antara pihak Palestina dan Israel terus berulang dan meruncing, mencatatkan sejarah-sejarah kelam seperti peristiwa Intifada pada Desember 1987 sebuah gerakan perlawanan di Jalur Gaza yang dipicu oleh tewasnya empat warga Palestina akibat tabrakan dengan truk militer Israel.
Kini, siklus kekerasan itu kembali berulang dengan eskalasi yang jauh lebih mengerikan. Hanya dalam waktu tiga pekan sejak perang kembali meletus, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat angka kematian yang memilukan: 6.546 korban jiwa tewas di Gaza, dan yang paling menyayat hati, 2.704 di antaranya adalah anak-anak. Angka ini bukanlah sekadar statistik, melainkan nyawa manusia yang terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Secara biologis, hewan diciptakan tanpa akal dan insting moral, sehingga wajar jika mereka bertarung dan saling memangsa demi bertahan hidup. Manusia, di sisi lain, dianugerahi akal (ilmu) yang membedakannya dari makhluk lain. Namun, ada tingkatan yang jauh lebih tinggi dan esensial daripada sekadar ilmu, yakni adab atau akhlak.
Sejenius apa pun seorang manusia, jika ilmunya tidak dibingkai dengan adab yang baik, ia sangat berpotensi bertindak lebih kejam daripada hewan. Kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak diimbangi dengan nilai-nilai agama akan melahirkan kehancuran. Kita bisa melihat buktinya hari ini: orang-orang cerdas menggunakan keilmuannya untuk merancang roket, bom, dan teknologi militer mutakhir, yang kemudian digunakan untuk membantai sesama manusia secara sistematis.
Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) yang mengemban amanah membangun peradaban di bumi. Dalam Al-Qur'an, konsep manusia dipetakan melalui dua terminologi utama:
Al-Basyar (Dimensi Biologis): Menunjuk pada sisi fisik manusia yang memiliki jasad dan organ biologis. Pada taraf ini, manusia berbagi kesamaan dengan hewan, seperti kebutuhan untuk makan, minum, istirahat, dan insting dasar lainnya.
Al-Insan (Dimensi Peradaban): Menunjuk pada potensi manusia sebagai makhluk berakal budi yang bertugas menciptakan peradaban. Secara fitrah, al-insan selalu berupaya bergerak menuju kesempurnaan.
Namun, arah "kesempurnaan" ini sangat bergantung pada epistemologi (cara pandang) tiap individu:
Cara Pandang Materialis: Mereka membatasi kesempurnaan hanya pada hal-hal inderawi dan duniawi (harta, kekuasaan, penampilan fisik).
Cara Pandang Spiritual-Objektif: Mereka menggunakan akalnya untuk melampaui batasan inderawi, menilai kehidupan secara logis, komprehensif, dan bertumpu pada nilai ketuhanan.
Salah satu akar kemunduran peradaban manusia termasuk umat Islam adalah adanya pemisahan (dikotomi) yang tegas antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Klaim dari sebagian ilmuwan Barat yang menyatakan bahwa sains dan teknologi dapat menjawab segalanya sehingga agama tidak lagi dibutuhkan, adalah sebuah kekeliruan besar yang berujung pada bencana moral.
Faktanya, sejarah kejayaan Islam membuktikan sebaliknya. Para ilmuwan muslim terdahulu tidak pernah memisahkan laboratorium dari tempat ibadah; mereka adalah pakar sains sekaligus ulama agama yang mumpuni.
Keterkaitan tak terpisahkan antara Ilmu dan Agama:
Agama Membutuhkan Ilmu: Seseorang yang beragama tanpa ilmu ibarat orang yang lumpuh. Iman tidak boleh hanya diwariskan secara genetik, melainkan harus dicari, dipelajari, dan diyakini melalui ilmu agar kita bisa membedakan mana yang hak (benar) dan yang batil (salah).
Ilmu Membutuhkan Agama: Ilmu tanpa agama akan menjadi buta dan destruktif. Agama berfungsi sebagai kompas moral yang menuntun para ilmuwan agar tidak merasa arogan layaknya tuhan baru.
Al-Qur'an sendiri telah memberikan porsi luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Sebut saja penjabaran tentang lautan luas yang tak bercampur di Selat Gibraltar (perbatasan Maroko dan Spanyol) dalam QS. Ar-Rahman: 19-20, atau fenomena sungai di bawah laut dalam QS. Al-Furqan: 53. Di saat yang sama, Allah mengingatkan batas kemampuan manusia dalam QS. Al-Isra: 85, bahwa pengetahuan yang diberikan kepada umat manusia hanyalah sedikit, ibarat setetes air dibandingkan samudra ilmu Allah yang tak bertepi. (dva)